• February 5, 2023
  • Last Update February 5, 2023 6:51 am
  • Nusa Tenggara Barat Indonesia

Pendakian Gunung Rinjani Ramai Perputaran Uang di Kawasan Sembalun Capai 41,37 Miliar

Pendakian Gunung Rinjani Ramai Perputaran Uang di Kawasan Sembalun Capai 41,37 Miliar

Lotim sergapye–sebagai salah satu destinasi wisata primadona NTB, Gunung Rinjani makin ramai dikunjungi (daki) baik wisatawan lokal, Nusantara dan mancanegara. Banyaknya wisatawan yang berdatangan secara tidak langsung membuat perputaran uang cukup besar yang dapat mengangkat ekonomi masyarakat Sembalun dan sekitarnya.

Belum lama ini Balai Taman Nasional Gunung Rinjani (BTNGR) Mataram memperkirakan perputaran uang dari aktivitas pendakian Gunung Rinjani di Pulau Lombok, Nusa Tenggara Barat, pada 2021 hingga Juli 2022 mencapai Rp41,37 miliar.

“Itu data hasil kajian kami berdasarkan laporan harian petugas. Angkanya bisa lebih besar lagi karena belum semua komponen dihitung, seperti sewa hotel dan pendapatan dari aktivitas wisata nonpendakian di kawasan TNGR. Kalau akademisi yang menghitung mungkin angkanya akan jauh lebih besar lagi,” kata Kepala BTNGR Dedy Asriady, seperti dikutip dari ANTARA News Mataram, Jumat (18/11).

Dedy menyebutkan hasil analisa jumlah keterlibatan masyarakat dalam kegiatan pendakian pada 2021, diketahui estimasi pendapatan tracking organizer (TO) sebesar Rp12,63 miliar, pemandu wisata (Guide) Rp603,89 juta, pramubarang (Porter) senilai Rp1,16 miliar, penyedia makanan minuman Rp3,62 miliar.

Selain itu, jasa transportasi sebesar Rp1,34 miliar, karcis asuransi yang dikenakan kepada pelaku wisata sebesar Rp244,02 juta, dan pendapatan negara bukan pajak (PNBP) yang disetorkan ke negara sebesar Rp577,55 juta.

Sedangkan pendapatan pada periode Januari – 31 Juli 2022, diperkirakan pendapatan TO sebesar Rp10,61 miliar pemandu wisata Rp1,18 miliar, pramu barang Rp3,15 miliar, penyedia makanan minuman Rp3,53 miliar, jasa transportasi Rp1,10 miliar, karcis asuransi Rp226,54 miliar, dan PNBP sebesar Rp1,36 miliar.

“Jika melihat data itu, pemerintah hanya dapat uang selama dua tahun sebesar Rp1,93 miliar, sedangkan yang beredar di masyarakat mencapai Rp39,43 miliar, ada yang ke TO paling besar, orang yang bekerja sebagai porter, guide, sopir dan pedagang makanan minuman. Jadi sangat besar nilai uang dari Rinjani yang ke sektor riil,” ujarnya.

Menurut dia, perputaran uang yang mencapai Rp41,37 miliar tersebut sebagai dampak dari mulai bangkitnya aktifitas pendakian Gunung Rinjani setelah sempat terpukul akibat gempa bumi Lombok pada 2018, disusul pandemi COVID-19 pada awal 2020.

Meningkatnya jumlah kunjungan wisatawan ke TNGR memberikan dampak langsung terhadap meningkatnya pendapatan ekonomi masyarakat lingkar Rinjani, terutama masyarakat yang mengantungkan hidupnya di Gunung Rinjani seperti TO, pramuwisata dan pramubarang.

Dedy menyebutkan masyarakat yang terlibat dalam aktivitas pendakian Gunung Rinjani pada 2021, terdiri atas TO sebanyak 70 orang, guide 794 orang dan porter 1.841 orang. Sedangkan pada periode Januari-Juli 2022, jumlah TO yang terlibat sebanyak 94 orang, guide 1.284 orang, dan porter 4.073 orang.

Jumlah pendaki pada 2021 sebanyak 39.226 orang, terdiri atas wisatawan mancanegara sebanyak 441 orang dan wisatawan nusantara sebanyak 38.785 orang. Sedangkan pada periode Januari-Juli 2022, jumlah kunjungan sebanyak 31.825 orang, terdiri atas wisatawan mancanegara sebanyak 2.600 orang dan wisatawan nusantara 29.225 orang.

“Jumlah kunjungan ke Gunung Rinjani saat ini, masih belum normal seperti kondisi sebelum gempa dan COVID-19,” kata Dedy.

Ia menambahkan kontribusi nyata dan relatif besar ke sektor riil dari aktivitas pendakian Gunung Rinjani, bisa menjadi jawaban bagi masyarakat yang selama ini mempertanyakan apa manfaat dari keberadaan Gunung Rinjani dan orang membeli tiket untuk bisa mendaki.

Oleh sebab itu, kata Dedy, pihaknya berkomitmen untuk mewujudkan pendakian kelas dunia, dalam artian pendaki yang datang lebih banyak wisatawan asing. Sebab, mereka datang dari luar negeri membawa uang dan butuh jasa TO, pemandu wisata dan pramubarang. Namun bukan berarti tidak menginginkan pendaki nusantara atau lokal yang kadang tidak menggunakan jasa pariwisata.

“Kami juga jarang menutup pendakian Gunung Rinjani seperti gunung-gunung di Pulau Jawa, karena kami memikirkan ribuan kepala keluarga yang menggantungkan hidup dari Rinjani untuk menghidupi seluruh anggota keluarganya,” katanya.(Ros)

 

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *