Lotim Sergapye –
Industri kecil menengah (IKM) diharapkan menjadi bagian dari rantai pasok bagi industri besar sekaligus menghidupi usaha mikro kecil menengah (UMKM). Hal itu terkait upaya menguatkan struktur industri di Indonesia di mana hal itu membutuhkan dukungan bahan baku atau komponen yang sebagian besar dapat didukung oleh IKM.
Hal tersebut diungkapkan Direktur Jendral Industri Kecil, Menengah, dan Aneka (IKMA) kementerian Perindustrian RI Reni Yanita dalam kunjungannya di Lombok Timur pada Kamis (28/8). Karena itu Yeni mengingatkan pentingnya keberlanjutan bahan bakunya. Terkait sentra IKM porang yang ada di Lombok Timur, Yeni mengapresiasi berbagai upaya yang ditempuh Pemda untuk memenuhi kebutuhan sentra IKM tersebut yang menemui kendala usai menurunnya minat petani menanam porang sebagai dampak covid-19 beberapa waktu lalu.
Ia berharap sentra IKM yang telah dibangun tersebut berjalan sesuai target yaitu menyerap, menyimpan, dan mengolah umbi porang menjadi bentuk chips maupun tepung, mengingat umbi porang ini diperoleh secara musiman. Sentra IKM disebutnya sebagai fasilitas off farm bagi produk pertanian maupun perkebunan agar dapat memiliki nilai tambah dan umur simpan yang relatif lebih lama.
Yeni yang diterima Wakil Bupati Lombok Timur H.Moh. Edwin Hadiwijaya didampingi Sekda H. Muhammad Juaini Taofik serta sejumlah pimpinan OPD terkait itu, menjelaskan sejak tahun 2022 hingga tahun 2024 terdapat 203 Sentra IKM, di mana pembangunannya berasal dari dana alokasi khusus (DAK).
Kunjungan kerja Dirjen IKMA ini dimaksudkan mendorong peningkatan daya saing industri kecil dan menengah (IKM) sebagaimana amanat Undang-undang Nomer 3 tahun 2014 tentang Perindustrian.
Selain Dirjen IKMA turut dalam rombongan Direktur Industri perdagangan dan peningkatan investasi Bappenas dan Sekretaris Ditjen IKMA. Usai pemaparan digelar diskusi rencana pengembangan sentra IKM Pengolahan Porang dan berbagai kendala yang ditemui.