• February 13, 2026
  • Last Update February 13, 2026 9:28 am
  • Nusa Tenggara Barat Indonesia

engembangan dan Risat Rumput Laut Berdampak

engembangan dan Risat Rumput Laut Berdampak

Lotim Sergapye –

Rumput laut merupakan salah satu komoditas penting di masa mendatang, seiring pemanfaatannya diberbagai bidang. Karena itu pemerintah  bertujuan menjadikan Indonesia sebagai pusat rumput laut dunia yang dapat mendorong peningkatan ekonomi, utamanya masyarakat pesisir. Langkah tersebut diantaranya dimulai di Lombok Timur.

Diinisiasi sejak Mei 2025, Pemerintah Kabupaten Lombok Timur bekerja sama dengan Universitas Mataram  (Unram) dan dukungan penuh Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek) membangun pusat riset rumput laut tropis internasional (International tropical seaweed research center/ITSRC) dan Laboratorium spesialis kedokteran kepulauan. Desa Ekas dipilih menjadi lokasi pembangunan. Wakil Menteri Diktisaintek Stella Christie melakukan peletakan batu pertama pembangunannya pada Kamis (12/2). Malam dan gerimis yang turun tidak menyurutkan semangat seluruh pihak yang terlibat dalam peletakan batu pertama tersebut.

Keberadaan ITRSC dan kehadirian peneliti diharapkan Bupati Lombok Timur H. Haerul Warisin menghasilkan bibit rumput laut yang lebih unggul, yang tentunya akan membawa dampak ekonomi bagi masyarakat sekitar khususnya, dan Lombok Timur secara umum. Apalagi, tambah Bupati dalam ucapan selamat datangnya, Lombok Timur memiliki potensi besar dan kualitas rumput laut yang belum dikembangkan secara optimal.

Rektor Unram Bambang Hari Kusumo meyakinkan bahwa  sambutan hangat Pemda Lombok Timur terhadap rencana pembangunan ITSRC dan Laboratorium beserta fasilitasnya akan berdampak terhadap pembangunan ekonomi masyarakat. ITSRC sebagai pusat penelitian rumput laut tropical dunia yang berkolaborasi dengan peneliti dunia diharapkan dapat mengatasi berbagai permasalahan dalam upaya peningkatan kualitas dan produktivitas rumput laut.

Sementara untuk klinik kedokteran spesialis kepulauan disebut Bambang sebagai satu-satunya di Indonesia dan satu dari tujuh program pendidikan dokter spesialis di Unram. Tidak sekadar membangun klinik, tapi juga menyiapkan dokter dan fasilitas lainnya yang mendukung pelayanan kesehatan bagi masyarakat.

“Enam bulan kedepan sudah mulai membangun. Lahan lokasi pembangunan ini hibah Pemda Lombok Timur. Harapan kami kedepan, akan membuat masyarakat disini terlayani kesehatannya, dan mengembangkan kawasan untuk sentra produksi rumput laut,”ujarnya.

Berdampak, menjadi penekanan Wamen Stella dalam sambutannya usai melakukan peletakan batu pertama. Cita-cita mewujudkan Indonesia sebagai pusat rumput laut menurutnya harus dimulai dari sekarang. Pelatakan batu pertama ini menurutnya bukan semata seremonial. Pemerintah melalui Kemendiksaintek telah menggandeng dua institusi penelitian dunia yaitu Universitas Calofornia, Berkeley dan Beijing Genomic Institute. Keduanya merupakan yang terdepan dalam riset, khusunya rumput laut dan pengembangannya.

 

“Peletakan batu pertama ini bukan seremonial. Kami sudah menggandeng industri nasional, agar bisa membentuk ekosistem rumput laut. Kami juga sudah merangkul dua kekuatan besar sains dunia di Amerika dan Cina. Ingat, tujuan riset untuk meningkatkan pengetahuan agar meningkatkan pendapatan dan perekonomian kita,” ungkapnya.

Menurutnya  setiap inovasi harus didasarkan pada riset. Hal itulah yang dilakukan negara-negara dengan ekonomi yang kuat. Karena itu pihaknya bersama perguruan tinggi dan Pemerintah daerah mengambil langkah ini, sebagai bentuk kesungguhan agar membawa dampak perekonomian, meningkatkan kesejahteraan lewat sains dan teknologi.

Wamen juga menyinggung potensi menjanjikan rumput laut kepada masyarakat sekitar yang turut hadir pada kesempatan tersebut. Saat ini, Indonesia sudah menjadi produsen rumput laut tropis terbesar di dunia dan menguasai 75 persen pangsa pasar rumput laut tropis dunia. Nilai pasar rumput laut tropis USD 12 miliar atau Rp 198 triliun lebih dan akan terus meningkat  karena teknologi hilirisasi rumput laut tropis yang semakin beragam. Mulai dari pupuk, plastik, hingga bahan bakar seperti bio-avtur.

“Jika Indonesia tidak ada riset sains dan teknologi, Indonesia tidak akan dapat dari ribuan triliun yang berputar di perekonomian dunia,” ungkapnya.

Selain riset, pemerintah juga mengundang Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) terkait ekonomi dan ketenagakerjaan.

Dengan berbagai keuntungan tersebut diharapkan masyarakat sekitar dapat mendukung kegiatan riset, bahkan berpartisipasi di dalamnya, utamanya dalam menjaga semangat membangun industry rumput laut di daerah ini.

Pada kesempatan tersebut Bupati Lombok Timur juga melakukan penandatanganan kerja sama dengan enam Rektor Perguruan Tinggi se-Lombok Timur, yaitu ITSKES Muhamadiyah, Universitas Hamzanwadi, IAIH Pancor, UGR, STIT Palapa, dan Elkatari.

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *